Belitung, Wartakum7.com– Hilangnya sejumlah alat penanda alur laut di perairan Belitung beberapa pekan terakhir tidak menyurutkan semangat para nelayan untuk tetap melaut dengan aman. Forum Nelayan Baro (FNB) mengambil langkah cepat dengan memasang pelampung darurat secara swadaya sebagai pengganti sementara.
Aksi gotong royong tersebut diinisiasi Ketua FNB, Erwin, bersama puluhan anggota dan berlangsung pada Jumat, 10/7/2026 di titik-titik rawan alur pelayaran Baro dan sekitarnya.
Gerak cepat FNB ini mendapat apresiasi langsung dari Melkky, Wakil Ketua 1 Kelompok Kerja (Pokja) Wartawan Belitung.
Wakil Ketua 1 Pokja wartawan Belitung itu menyampaikan rasa bangga atas inisiatif yang ditunjukkan Forum Nelayan Baro di tengah keterbatasan fasilitas.
“Saya sangat mengapresiasi langkah cepat yang diambil oleh Pak Erwin dan seluruh anggota FNB. Ini adalah bentuk tanggung jawab dan kepedulian yang luar biasa terhadap keselamatan sesama nelayan,” ujarnya saat meninjau lokasi pemasangan pelampung darurat, Jumat 10/7/2026.
Menurutnya, hilangnya alat penanda alur laut memang menjadi persoalan serius karena berpotensi membahayakan pelayaran, terutama pada malam hari dan saat cuaca buruk.
“Alur laut itu ibarat rambu jalan di darat. Kalau tidak ada, risiko tabrakan, kandas, bahkan kecelakaan laut akan meningkat. Di sinilah pentingnya peran serta masyarakat,” jelasnya.
Melkky menilai, pemasangan pelampung darurat oleh FNB adalah bentuk mitigasi risiko yang cerdas dan tepat waktu. Meskipun bersifat sementara, keberadaan pelampung ini sangat membantu nelayan dalam mengenali alur aman saat melaut.
“Ini bukan sekadar kerja bakti. Ini adalah wujud kemandirian. Ketika fasilitas negara belum bisa segera dipenuhi, masyarakat bergerak lebih dulu. Ini patut kita contoh,” tegas Melkky sambil tersenyum simpul.
Ia juga menekankan bahwa keselamatan di laut adalah harga mati. “Nelayan adalah pahlawan pangan kita. Mereka bertaruh nyawa demi menghidupi keluarga. Maka keselamatan mereka wajib kita jaga bersama,” tambahnya.
Lebih lanjut, Wakil Ketua 1 Pokja Wartawan Belitung memastikan pihaknya akan segera berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan Laut, KSOP, dan instansi terkait lainnya agar alat penanda alur laut yang hilang dapat segera diganti secara permanen.
“Kami tidak akan tinggal diam. Hari ini saya catat titik-titik yang dipasangi pelampung darurat. Minggu depan kami akan dorong agar pengadaan alat navigasi permanen dipercepat. Anggaran dan kewenangan akan kita kawal bersama,” pungkasnya.
Di tempat yang sama, Ketua FNB Erwin mengatakan, inisiatif ini murni dari semangat gotong royong anggota. Pelampung darurat dibuat dari drum bekas, jaring, dan pemberat seadanya, namun sudah diuji dan layak digunakan sementara.
“Kami tidak bisa menunggu lama. Teman-teman tetap harus melaut setiap hari. Kalau ada yang celaka karena tidak ada penanda, kami yang rugi. Makanya kami pasang dulu sebisanya,” ujar Erwin.
Ia berharap langkah FNB ini bisa menjadi contoh bagi kelompok nelayan lain di Belitung untuk tidak ragu bergerak jika ada persoalan di lapangan.
Aksi FNB ini menjadi pengingat penting bahwa sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan lembaga terkait adalah kunci utama dalam menjaga keselamatan di wilayah perairan.
Dengan adanya apresiasi dan dukungan dari Wakil Ketua 1 Pokja Wartawan Belitung, diharapkan persoalan hilangnya alat penanda alur laut dapat segera diselesaikan secara permanen, sehingga nelayan Belitung bisa melaut dengan lebih aman dan tenang tentunya.*AS






