Trotoar Jalan Gajah Mada Tanjungpandan Rusak, Pejalan Kaki Terpaksa Berbagi Jalan dengan Kendaraan

Trotoar Jalan Gajah Mada Tanjungpandan Rusak, Pejalan Kaki Terpaksa Berbagi Jalan dengan Kendaraan

Spread the love

 

Belitung, Wartakum7.com – Aktivitas pasar pagi di Jalan Gajah Mada, Tanjungpandan, Kabupaten Belitung setiap hari memompa denyut ekonomi warga. Pedagang, pembeli, dan kendaraan berbaur dalam ritme yang nyaris tak pernah berhenti. Namun di balik geliat itu, tersimpan potret kelalaian yang mencolok: trotoar pejalan kaki dibiarkan rusak, tertutup rumput, dan kehilangan fungsi.

 

Alih-alih menjadi ruang aman, trotoar justru berubah menjadi “zona mati”. Lubang menganga, permukaan tak rata, hingga semak liar yang tumbuh tak terkendali menjadi bukti minimnya perawatan. Dampaknya nyata pejalan kaki, termasuk pelajar, terpaksa turun ke bahu jalan dan berbagi ruang dengan kendaraan yang melaju.

 

Situasi ini bukan sekadar soal kenyamanan, melainkan ancaman keselamatan yang dibiarkan berlangsung setiap hari.

 

“Sudah lama tidak diperhatikan. Sekarang malah jadi sarang rumput, tidak bisa dipakai sama sekali,” ujar Mardi, warga setempat.

 

Masalah semakin kompleks karena lokasi berada di kawasan pasar. Aktivitas jual beli yang meluber hingga ke trotoar mempersempit bahkan menghilangkan ruang pejalan kaki. Jalan yang seharusnya tertib berubah menjadi ruang campur aduk tanpa batas jelas antara kendaraan, pedagang, dan pejalan kaki.

 

Yang paling terdampak adalah pelajar. Setiap pagi, mereka harus berjalan di tepi jalan raya dengan risiko tinggi. Di tengah padatnya arus kendaraan dan parkir, keselamatan mereka terkesan dipertaruhkan.

 

“Anak-anak sekolah kasihan, harus jalan di pinggir jalan. Kalau pasar ramai, jalan makin sempit karena parkir. Ini sangat berbahaya,” tambah Mardi.

 

Ketika hujan turun, kondisi berubah dari buruk menjadi berbahaya. Drainase yang tidak berfungsi optimal menyebabkan genangan menutup lubang-lubang di jalan dan trotoar. Permukaan licin akibat rumput liar menambah risiko terpeleset, sementara batas antara trotoar dan jalan nyaris tak terlihat.

 

Ironisnya, Jalan Gajah Mada merupakan kawasan strategis dekat pusat pemerintahan dan rumah dinas Bupati. Namun wajah infrastrukturnya justru mencerminkan pembiaran.

 

Kondisi ini memantik pertanyaan publik: di mana prioritas penataan kota?

 

Warga menilai pemerintah daerah abai terhadap persoalan yang sudah berlangsung lama dan berdampak langsung pada keselamatan masyarakat.

 

“Ini jalan utama, dekat pasar, dilalui pelajar setiap hari. Harusnya jadi prioritas, bukan dibiarkan,” tegas seorang warga.

 

Masyarakat mendesak adanya langkah konkret: perbaikan total trotoar, pembersihan rumput liar, penertiban aktivitas pasar yang melanggar ruang publik, serta pembenahan sistem drainase.

 

Trotoar bukan sekadar pelengkap kota. Ia adalah hak dasar pejalan kaki. Ketika trotoar dibiarkan rusak dan tak berfungsi, yang hilang bukan hanya fasilitas melainkan juga rasa aman, terutama bagi generasi muda.

 

Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak terkait. Sementara itu, warga dan pelajar terus berjalan di garis bahaya, setiap hari.

 

Semtara itu Sukri Gumai mantan Anggota DPRD Kabupaten Belitung Periode 2019 -2024, juga turut angkat bicara. Ia menilai kondisi tersebut mencerminkan kurangnya perhatian pemerintah daerah terhadap infrastruktur dasar masyarakat.

 

“Ini persoalan serius yang tidak boleh dianggap sepele. Trotoar adalah hak pejalan kaki. Pemerintah daerah melalui OPD terkait harus segera turun langsung ke lapangan, jangan hanya menunggu laporan,” terang Sukri Gumai dengan tegas.

 

Ia juga mendorong agar dilakukan penataan menyeluruh, tidak hanya perbaikan fisik trotoar, tetapi juga penertiban aktivitas pasar yang mengganggu akses publik.*Koko